Selasa, 30 Juni 2009

Yang berjubah belum tentu shalih

    Tatkala nabi Daud sedang memberikan pelajaran akhlak kepada murid-muridnya, masuklah seorang laki-laki memakai jubah putih dan menyebarkan bau wangi. Laki-laki berjenggot itu mengucapkan salam kepada nabi Daud, tetapi nabi Daud tidak peduli, apalagi menjawab salamnya. Ia teus menyampaikan pelajaran tanpa sedikit pun melirik kepada tamu yang baru datang itu.
    Laki-laki itu lantas mengerjakan sembahyang sesuai dengan syariat yang berlaku pada waktu itu. Setelah lama sekali mengerjakan rukuk dan sujud, laki-laki itu mengangkat kedua tangannya dan berdoa.
    Nabi Daud tetap melanjutkan wejangan-wejangannya tanpa memberikan kesempatan tamu itu untuk berkenalan , atau para muridnya mengambil perhatian kepadanya. Maka semua murid nabi Daud merasa tidak enak di depan laki-laki asing tadi, dan menganggap nabi Daud tidak memberikan contoh yang baik.
    Pria berjubah bersih itu kedengaran menangis tersedu-sedu ketika do’a panjang sekali. Sesudah itu ia berdiri, lalu keluar dari sinagog tempat peribadatan mereka setelah meminta diri dengan mengucapkan salam. Namun nabi Daud tetap tidak menaruh hormat sama sekali. Semua murid nabi Daud merasa iba melihat nasib tamu yang malang barusan.

Maka setelah nabi Daud mengakhiri pelajaran tentang akhlak yang baik, salah seorang murid mengajukan pertanyaan:

“Wahai nabuyullah, saya ingin bertanya.”

“Tanyalah”. Jawab nabi.

“Bukankah engkau mengajarkan kami untuk menghormati tetamu?”

“Betul.”

“Tapi mengapa engkau tadi tidak memperlihatkan akhlak terpuji kepada tamu?”

“Sebab dia tidak tahu budi pekerti. Apakah kalian tidak ingat bagaimana caranya memasuki majelis tatkala guru sedang mengajar? Mula-mula kaki kanan melangkah terlebih dahulu sebagai tanda menghormati sinagog kita. Kemudian tidak seharusnya dia mengucapkan salam, melainkan langsung duduk dan ikut mendengarkan.”

“Barabgkali dia belu tahu caranya?”

“Tabi jubah dan sorbannya menunjukkan seolah-olah dia adalah orang alim, bukan? Apakah pantas kalau dia orang alim tidak mengetahui sopan santun memasuki tempat peribadatan dan tempat mengajar?” sanggah nabi Daud. “Orang seperti itulah yang akan menjatuhkan agama kita, karena tidak sesuai antara penampilan dengan sikapnya.”

“Tapi tadi dia sembahyang lama sekali,” sahut si murid

“Itulah tanda kepalsuan. Ia hanya ingin memamerkan tanda kesalihannya, padahal dia bukan orang baik. Ia sembahyang buat kita, tidak buat Tuhan”

“Ia berdoa panjang sambil menangis”

“Apakah doa yang panjang menjamin keikhlasan? Bukankah Tuhan menyukai doa yang khusuk dan yakin? Kalau ia ingin menangis tidak selayaknya di depan kita. Menangislah yang sedih di depan tuhan ketika sendirian, dalam sembahyang malam diwaktu makhluk lain tengah lelap tertidur dan tidak melihat tangisannya.”

“Wajahnya mulus sekali seperti orang yang ikhlas. Pakaiannya serba putih melambangkan warna hatinya. Apakah ia bukan orang yang takwa?”

“Takwa tidak dilihat dari rupanya, juga tidak dilihat dari pakaiannya. Tuhan hanya melihat hati manusia, dan dinilai dari perbuatannya, sesuai tidak dengan syariat agama. Manusia tidak dihargai dari bungkusnya, melainkan dari isinya, dari mutu kemanusiannya.”

    Dengan penjelasan tersebut mengertilah murid-murid nabi Daud bagaimana seharusnya menghayati agama dengan menjalankan semua ketentuanya, tidak sekedar membangga-banggakan melalui ucapan dan pernyataan.

Read More..

Kamis, 18 Juni 2009

Yach...Dia sms lagi

        Nisa melangkah ringan menuju kamarnya. Tadi pagi, saat pulang dari pasar, ia bertemu dengan Reza. Nisa pangling. Kalau saja bukan Reza yang menyapa duluan, tentu Nisa takkan tahu kalau itu teman masa kecilnya dulu. Reza sudah banyak berubah. Wajar saja, mereka sudah tidak bertemu hampir 9 tahun. Bukan penampilan Reza saja yang membuat Nisa bahagia. Laki-laki itu kini tampak lebih dewasa, Reza kini telah menjadi “ikhwan”. Allahu Akbar! Nisa kembali meneriakkan kebesaran illahi.

        “Apa kabar, ukhti?”...Kata-kata itu yang membuat Juga Nisa yakin kalau Reza adalah ‘ikhwan’. Juga sikapnya yang berusaha menjaga jarak saat mereka saling bertanya tentang aktifitas masing-masing.

         Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepala Nisa. Kenapa dia sempat menghilang begitu lulus SD? Bagaimana kuliahnya? Apa kesibukannya sekarang? Bla bla bla.. Semuanya tak sempat terlontar karena Reza sendirilah yang menceritakannya tanpa diminta, saat dia menelpon tadi.

          Kini Nisa merasa tak lagi sendiri, ada orang lain yang sepaham dengannya. Yang bisa diajak berdiskusi memikirkan masalah umat. Minimal memikirkan bagaimana caranya membangun kampung halaman mereka agar sedikit terwarnai nuansa islami.

          Nisa sempat terpikir untuk meminta Reza mengajar di TPA dekat rumahnya. Toh letaknya hanya terpisah beberapa blok dari rumah Reza. Lagipula sayang rasanya masjid sebesar itu hanya diramaikan saat shalat fardhu saja, itu pun tak lebih dari 2 shaf bolong sana-sini.

          Gadis berjilbab itu menulis sesuatu di buku agendanya, minggu ini ia sudah siap dengan segudang aktifitas dengan adik-adik TPA.

                                                                            * * *

              “Bagaimana kuliahnya?”

Itu bunyi sms dari Reza beberapa detik yang lalu. Nisa membalasnya. 

              “Alhamdulillah, lancar.”

Datang sms kedua dari Reza 

              “Pulang seminggu sekali?”

              “Iya, kdang-kadang sebulan sekali. Tergantung.”

              “Bagaimana kondisi dakwah disana?”

          Nah, ini yang paling Nisa tunggu-tunggu. Berdiskusi masalah dakwah di seputaran kampus. Reza gak tau sih! Walaupun di sini kondusif dan lebih banyak tangan-tangan saudara seperjuangan yang siap terulur manakala kita jatuh, tetap saja friksi itu pasti ada. Terutama dari eksternal. Teman-teman kiri makin giat menampakan kekiriannya.Mulai dari mengadakan bazaar buku-buku beraliran kiri , hingga gaya hidup mereka yang salam pun harus memakai tangan kiri. Beruntung banget mereka yang kidal, pikir Nisa.

             “Teruslah berjuang. Sesungguhnya Allah bersama orang-orng yang sabar..”

             “Doakan ya!”

          Nisa tersenyum bahagia. Coba saja kak Indra seperti Reza. Tidak melulu jadi Bakwan alias Bakal Ikhwan yang entah kapan menjadi ikhwan betulan.

             “Nisa, mas Indra pinjem hape-mu ya!Mau sms Putri buat ikut taklim bareng di kampus !”

Tuh kan!

                                                                                * * *

            “Nisa, ada telpon!” mas Indra teriak dari ruang makan. Dengan malas Nisa keluar dari kamar. Nisa merasa tidak enak badan. terlebih ia baru saja pulang ke rumah.

          Uf Nisa menutup telepon dengan perasaan kecewa . Kirain apa taunya Reza yang hanya sekedar menanyakan kabarnya. Padahal minggu lalu Reza sudah sering berbuat demikian. Biasanya Nisa paling semangat kalau ada telpon dari Reza tapi dengan keadaannya yang sekarang, Nisa lebih memilih untuk membaringkan badannya yang lelah di kasur, lantas tertidur.

Tiba-tiba hape-nya berbunyi.

             “Assalamualaikum ukhti.waktu ditelpon tadi ,kok lesu? kenapa? sakit,ya?”

Nisa terkejut...Lho!Padahal tadi kan barusan nelpon ,masih juga kirim sms?!

             “Kalau sakit cepet minum obat.jangan lupa ke dokter. Mau ana anterin?”

Apa-apaan ini!!

          Nisa sedikit tersinggung dengan sms barusan. Ia rasa Reza sudah over perhatian. Enak aja mau nganterin yang bukan muhrim.

Nggak apa-apa, Cuma kelelahan.

          Walaupun begitu, Nisa membalasnya dengan sesopan mungkin. Barangkali ia yang kegeeran. Mungkin Reza benar-benar tulus mengatakan hal itu atas dasar ukhuwah.

           “Kalau gitu istirahat yang cukup. Dakwah sangat membutuhkan orang-orang sepertimu…”

Nisa hanya membaca setengahnya ,habis itu terlelap

                                                                              * * *

          Hari-hari berikutnya Nisa semakin sering mendapat sms sia-sia dari Reza. Sia-sia karena isinya tidak lebih dari sekedar menanyakan kabar atau kuliah. Beda saat mereka pertama kali sms, isinya lebih cenderung militan,lebih tertarik mendiskusikan masalah adik-adik TPA atau pengajian untuk para ibu-ibu PKK.

          Lama-kelamaan Nisa bosan dengan sms Reza yang itu-itu juga. Pulsanya seminggu habis hanya untuk debat kusir supaya Reza tidak terlalu sering sms,alasannya khawatir melanggar batas. Namun Reza pandai memutarbalikkan fakta. Dan Nisa malas harus beradu argumen dengannya.

         Belum lagi sekarang Reza sering memberinya barang-barang berupa agenda, kaset, bahkan mushaf yang harganya mahal untuk anak kost sepertinya. Nisa sudah berusaha menolaknya ,tapi Reza tetap memaksa.

”Barangsiapa diberi saudaranya kebaikan dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak dia minta ,maka hendaklah diterimanya dan jangan menolaknya. Sesungguhnya yang demikian itu rizki yang diberikan ALLAH kepadanya.”(HR.Ahmad)

        Uh! Nisa mati kutu kalau Reza sudah mengeluarkan jurus pamungkasnya. Hal itu membuat Nisa semakin tidak enak. Dan hadiah itu selalu rutin dikirimkan dua minggu sekali. Jelas membuat ibu kelimpungan. Terutama mas Indra.

              “katanya nggak boleh pacaran?!” Nisa merasa gagal memberikan contoh yang benar pada kakaknya.

              “Bagaimana hadiahnya? ukhti suka,kan?”

Sejak saat itu , sms Reza jarang dibalasnya.

* * *

         Keterlaluan!Reza benar-benar sudah melanggar batas. Nisa menjerit dalam hati.

Hari ini gadis itu menerima sms yang sangat tidak sopan .

              “Saya sangat salut melihat keteguhan ukhti dalam berjuang . Tidak salah lagi ukhtilah Siti Khadijah selanjutnya. Calon istri shalehah.”

Bukan Cuma itu…

              “ana uhibukafillah. Percayalah,ukhti adalah impian saya sejak dulu… ”

         Nisa tidak berani membacanya lebih lanjut. Pipi gadis itu bersemu merah,lantaran darahnya naik sampai ubun-ubun. Ternyata kekhawatiranya selama ini terbukti. Bahwa bukanya Nisa yang kegeeran ,tapi memang ada yang aneh dengan Reza.

              “Ukhti, tolong balas sms ana,karena ana butuh kepastian. Bagaimana perasaan ukhti terhadap ana?”

Air mata Nisa meleleh.

That’s it! Pokoknya dia harus segera bertemu mbak Uci. 

                                                                                  * * *

              “sejak kapan dia sms Nisa kayak gini?” Tanya mbak Uci penuh empati. Nina sekilas menatap wajah seniornya itu,mbak Uci adalah akhwat yang dituakan di pondokan Avicena. Dan paling dekat dengan Nisa.

              “udah lama sih ” terselip penyesalan dalam diri Nisa kenapa baru kali ini bercerita tentang Reza.

              ”gimana dong ,mbak?” wajah Nisa memelas. Reza terus-terusan meminta jawaban Nisa atas pertanyaan konyolnya.

Mbak Uci hanya tersenyum menanggapi keluhan adik angkatannya.

              “ Uci juga sering mendapat sms kayak gitu, ”paparnya kemudian.  

              “Oh,ya?” kepala Nisa terangkat,Ia merasa ada yang senasib dengannya.

              “apa katanya ,mbak?”kejar Nisa. Mata mbak Uci terpejam sebentar , seakan mengingat-ingat hal yang sudah pernah hilang dalam benaknya.

Pertama dia bilang gini, ”Assalamualaikum ukhti shalihah, bagaimana kabarmu hari ini,sayang?”

         Astaghfirullah,awalnya sih sopan,belakangnya yang amburadul. Nisa terkikik pelan begitu mendengarkan cerita mbaknya.

               “Uci pikir,ini pasti kerjaannya orang gila. Makanya nggak Uci tanggapin. Eh, tiba-tiba dia sms lagi…”

               “Terus…terus?”

                “Terus katanya begini: bersiap-siaplah untuk menungguku dua tahun lagi kalau tidak ingin sendiri untuk selamanya.”

Nisa sampai geleng-geleng kepala. Ada aja orang yang kayak gitu.

                “Kurang ajar!! urusan gue dong mau nikah kapan aja…”Tukas mbak Uci dengan nada bercanda.

               ”Siapa,mbak,yang berani sms kayak gitu?”Tanya Nisa.

               “Uci juga nggak tau,trus Uci balas aja sms-nya:Maaf, ini siapa ,ya?

               “Eh, dia Cuma jawab gini:Hamba ALLAH!”

Mbak Uci menghela nafas.”trus pas besoknya sempat kepikiran…eh,setan kan juga Hamba ALLAH,ya?” 

        Nisa tak mampu menahan tawanya. Sesaat pikirannya tentang Reza terbang entah kemana. Mbak Uci berhenti bercerita, menepuk pundak Nisa pelan. Nisa pun akhirnya berhenti tertawa,lantas tersenyum simpul.Lama keduanya terdiam.

              “Udah, biarin aja !”nasehatnya.

              “nggak usah berurusan sama ikhwan gombal-gambel. Entar dia juga bosen sendiri.”

              “kok bisa ya mbak, ikhwan kayak gitu.”

              “bisa aja,soalnya kan dia ikhwan gombal-gambel. Nggak usah diladeni…”

Nisa menganggukkan kepalanya.

              “biar gak jadi akhwat gombal-gambel.”

              “maksudnya apa, mbak?”

              “Iya, akhwat gombal-gambel itu, pas si ikhwan ngegodain,eh…si akhwat mauuu aja digodain…”

Nisa bergidik. Ogah!!!

                                                                                  * * *

        Nisa menghempaskan badannya di kursi dekat meja belajar. Setumpuk hand-out fotocopian menunggu untuk dilahapnya. Lusa ia harus bersiap-siap mengikuti ujian akhir semester. Saat sedang asyik me-review, tiba-tiba…….

       Tiiiit…tiiit…tiiit

       Allahu Akbar. Nisa tersentak kaget. Ponselnya berbunyi. Diraihnya ponsel tersebut, lantas sedikit tercengang ketika tau siapa yang mengirim sms. Ini anak gak kapok-kapok, keluh Nisa.

Beberapa hari yang lalu, kejahilan Reza semakin bertambah. Ikhwan gombal- gambel itu tidak hanya terang-terangan menyatakan rasa suka kepada Nisa dengan sangat vulgar, untuk ukuran seseorang yang sudah paham tentang Islam. Reza juga bermaksud hendak ta’aruf dengan Nisa. Akhwat berjilbab itu kalang kabut. Ia hanya menyerahklan ponsel miliknya ke mbak Uci, untuk kemudian mbak Ucilah yang mengirimkan balasan-balasan atas rasionalisasi yang ditawarkan Reza.

        Memang segampang itu menyatakan menikah? Sementara menikah adalah sesuatu yang baik. Semestinya sesuatu yang baik itu, harus diawali dengan sesuatu yang baik pula. Ta’aruf dengan baik-baik, melamar juga dengan baik-baik. Reza terlalu mengikuti nafsu. Pikirannya hanya dipenuhi keindahan akan dibangunkan shalat malam oleh istri tercinta, dimasakkan makanan kesukaannya, atau dipijiti manakala ada otot yang terasa kaku. No way..

        Pernikahan tidak hanya mempersatukan dua manusia, tetapi juga mempersatukan dua keluarga. Sudahkah ia berpikir tentang keluarganya? Atau bahkan keluarga Nisa? Bagaimana tanggapan mereka?

        Reza tidak berkutik ketika mbak Uci menanyakan hal itu padanya. Tiba-tiba keringat dingin mulai mengaliri badan Nisa. Tangannya gemetar saat hendak membuka pesan itu. Jujur ia takut. Dan muncullah di layar : “Jika ada seorang shaleh datang kepadamu dengan tujuan menjadikan anak-anakmu yang perempuan sebagai istri, maka hendaklah engkau bersabar kemudian menerimanya. Sekiranya engkau menolak, maka tunggulah akan datangnya azab Allah berupa fitnah.” Reza menyitir sebuah hadist yang dapat melancarkan keinginannya.

       Nisa tertegun sejenak. Lantas dengan ringan membalasnya. Hadist itu hanya ditujukan kepada seorang shaleh, bukan kepada seorang yang merasa shaleh! Klik! Ia mematikan ponselnya. Biar saja…daripada jadi akhwat gombal-gambel.

Read More..

Selasa, 16 Juni 2009

Jalan yang kutempuh

       Aku adalah mahasiswa ITS jurusan Teknik Perkapalan. Selaknya mahasiswa lain yang jauh dari kampung halaman dan tidak mempunyai saudara di Surabaya pastilah tinggal di Surabaya dengan cara kos ataupun mengontrak suatu rumah. Begitu juga aku.

       Berbeda dengan mahasiswa yang lain yang umumnya mencari tempat kos disekitar kampus, aku justru memilih kos yang tempatnya cukup jauh dari kampus. Tepatnya di daerah ngagel yang kira-kira memerlukan waktu 15 menit untuk mencapai kampus bila menggunakan sepeda motor. Banyak sekali taman-temanku yang heran kenapa aku kos di tempat yang jauh dari kampus.

       Sebenarnya tempatku kos sekarang adalah rumahnya seorang mahasiswa Teknik lingkungan yang tidak lain adalah temanku sendiri. Sudah sejak SD aku kenal dia. Bahkan aku selalu satu sekolah dengan dia sampai SMA. Malahan sekarang aku tinggal serumah dengan dia dan menuntut ilmu di perguruan tinggi yang sama pula.

       Walaupun tempatnya jauh dari kampus, aku sangat senang tinggal ditempat itu. Selain kerena mendapat fasilitas yang super lengkap dengan biaya yang murah, Pemilik kos ini yang tidak lain adalah orang tua dari temanku sendiri sangat baik terhadapku. Aku merasa mereka sudah menganggapku seperti anaknya sendiri. Mereka jugalah yang dulunya menyuruh aku untuk tetap tinggal ditempat itu menemani anaknya. Itulah mungkin kenapa aku tetap tinggal disitu padahal dulunya aku sempat berpikir untuk pindah ke tempat yang dekat dengan kampus.

       Memang berat jika tiap hari harus naik angkot untuk pergi dan pulang dari kampus. Selain mengeluarkan ongkos, aku harus berjalan cukup jauh untuk pergi ke tempat pemberhentian angkot. Begitu juga saat tiba di gerbang kampus, aku harus berjalan cukup jauh untuk mencapai jurusanku Teknik Perkapalan. Alhamdulillah aku mempunyai teman-teman yang baik yang bersedia mengantarku pulang setelah pulang kuliah. Begitu juga saat berangkat, aku sekarang tidak khawatir harus naik angkot lagi karena ada teman sejurusanku yang kos ditempat itu juga. Jadi setiap berangkat kuliah aku biasa bareng dia karena dia memiliki sepeda motor. Namun karena kegiatan yang berbeda, tidak jarang aku pergi dan pulang naik angkot sendirian.

       Aku baru sadar bahwa dengan tempat tinggal yang jauh dan harus susah payah jika ingin pergi maupun pulang dari kampus, Allah SWT sangat sayang padaku. Aku merasa begitu sejak teringat tentang sabda Rasullah SAW

Ibnu Mas'ud mengatakan : "Barang siapa mau bertemu dengan Allah SWT dihari akhir nanti dalam keadaan muslim, maka hendaklah memelihara semua shalat yang diserukan-Nya. Allah SWT telah menetapkan jalan-jalan hidayah kepada para Nabi dan shalat termasuk salah satu jalan hidayah. Jika kalian shalat dirumah maka kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, dan kalian akan sesat. Setiap Lelaki yang bersuci dengan baik, kemudian menuju masjid, maka Allah SWT menulis setiap langkahnya satu kebaikan, mengangkatnya satu derajat, dan menghapus satu kejahatannya. Engkau telah melihat dikalangan kami, tidak pernah ada yang meninggalkan shalat (berjamaah), kecuali orang munafik yang sudah nyata nifaknya. Pernah ada seorang lelaki hadir dengan dituntun antara dua orang untuk didirikan shaf." (HR.Muslim).

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang pergi menuju masjid untuk shalat berjama’ah, maka satu langkah akan menghapuskan satu kesalahan dan satu langkah lainnya akan ditulis sebagai satu kebajikan untuknya, baik ketika pergi maupun pulangnya.” (HR. Ahmad, hadits ini shahih).

       Aku sangat senang begitu teringat hadist tersebut. Berapa banyak pahala yang aku peroleh jika aku wudhu dirumah kemudian berangkat ke kampus untuk mendirikan sholat disana. Berapa banyak dosa yang dihapus dikarenakan banyaknya langkah yang aku tempuh. Sedangkan untuk mancapai kampus aku harus berjalan kurang lebih 7 menit sampai ketempat pemberhentian angkot. Setelah itu aku harus berjalan kurang lebih 8 menit untuk mencapai masjid ITS setelah turun dari angkot.

       Begitu senang setelah aku memikirkan hal itu. Aku akan selalu beusaha untuk menyempurnakan wudhu dirumah ketika hendak berangkat ke kampus. Setelah itu aku mendirikan sholat disana.

By. Satria

Read More..

Minggu, 14 Juni 2009

Taukah Anda?

Anda memiliki 200 tulang yang tersusun dengan sangat rumit, 500 otot yang terkoordinasi dengan sangat baik , dan 11,3 km serat saraf untuk menggerakkan tubuh?

Di dalam tubuh Anda trdapat energi atomic yang cukup untuk membangun kota – kota terbesar di dunia berkali – kali?

Jantung Anda berdenyut sekitar 36juta kali setiap tahun, memompa 2.274000 liter darah melalui 96.000 km arteri, vena, dan kapiler?

Darah yang beredar dalam tubuh manusia mengandung 22 miliar sel darah? Di dalam setiap sel darah terdapat jutaan molekul, dan dalam setiap molekul terdapat ato yang berosilasi lebih dari 10 juta kali per detik.
Dua juta sel darah matidalam setiap detik? Dan ini segera digantikan oleh dua dua juta lagi?

Sistem penciuman manusia dapat mengenali bau kimiawi sebuah benda dalam satu bagian per triliun udara?

Di seluruh tubuh manusia terdapat 500.000 sensor sentuhan?

Mulut Anda adalah laboratorium kimia paling canggih yang pernah dikenal di planet ini? Dengan menggunakan kombinasi sensasi rasa manis, asin, dan pahit serta aroma, mulut dapat mengenali lebih dari satu miliar rasa yang berbeda.

Singkatnya Anda keajaiban yang hidup!


Dikutip dari BUKU PINTAR MIND MAP
by Tony Buzan

Secara fisik berat otak manusia berkisar antara 1,5-2. Otak terdiri dari sel – sel yang tersusun oleh oksigen dan glukosa. Secara alamiah, setiap manusia terlahir dan dianugerahi lebih dari 1trilliun sel otak, yang terdiri dari 100 miliar sel otak aktif dan 900 miliar sel pendukung. Jadi hal itu merupakan jawaban dari sebuah rahasia, mengapa manusia mendekati kesempurnaan. Di dalam Al-Quran telah dijelaskan bahwa ‘mengapa manusia lebih baik daripada binatang?’ adalah terletak dari kesempurnaan akalnya.
Penelitian yang telah dilakukan Antony Robin menunjkkan bahwa berat otak manusia yang berkisar 1,5-2 kg ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa, antara lain sebagai berikut.
Mengontrol denyut jantung 100.000 kali per hari tanpa disadari.
Memompa kurang lebih 25.000 liter darah setiap hari melalui pembuluh darah yang panjangnya mencapai 100.000 km (apabila ujung – ujungnya disambung satu sama lain)
Memungkinkan mata dapat membedakan lebih dari 10 juta warna.
Memberikan 25 ton daya tarik kekuatan otot apabila seluruh otot disalurkan ke arah yang sama.
Keberadaan otak merupakan wujud nyata yang menunjukkan bahwa manusia diciptakan secara lengkap dan nyaris mendekati kesempurnaan. Hal ini menjadi bukti bahwa Allah juga membebakan manusia untuk merancang sendiri kehidupan,tapi dengan seluruh konsekuensi dan tanggungjawab.

Hai manusia, engkaulah yang berkehendak atas diri – Ku(Q.S. al-fathir(35) : 15)

Muhammad Iqbal, seorang pujangga islam, menggambarkan ini dengan mengatakan ‘Khudi ko kar belland itna kihhar taqdir si pahle, khudi gandi skhud puche batu niza kiya hate’(bangukanlah pribadimu demikian hebat dan jayanya, sehingga sebelum Tuhan menentukan taqdirnya bagimu, sudilah Dia bermusyawarah denganmu dulu, apakah kehendakmu sebenarnya).

HATI

Secara fisik, hati merupakan sebuah kelenjar yang terbesar dan salah satu organ yang sangat penting di dalam tubuh kita. Hati ibarat sebuah pabrik kimia terbesar dalam tubuh manusia. Berat hati berkisar antara 1,5-2 kg,berwarna merah tua, berserat sangat halus, dan empuk. Hati dapat melakukan lebih dari 500 macam proses.
Darah melewati hati melalui pembuluh balik. Pada saat darah telah melewati hati, secara otomatis hati membersihkan dan menetrakan sema racu dan kotoran yang terkandung di dalam darah. Hati juga menyimpan viami da mineral yang dipelukan tubuh. Manusia tidak akan hidup jika hatinya tidak berfungsi.
Menurut ilmu hakekat, hati diartikan sebagai lubuk terdalam dari segumpal darah dari keajaiban. Hati merupakan pusat dari segala panca indera manusia. Hati sangat peka, halus, dan lembut. Hati dapat melihat dan merasakan sesuatu yang tidak terlihat oleh mata. Hati merupakan sumber penglihatan dan pendengaran serta perasaan yang sangat dalam.
Kemampuan hati yang demikian, ditentukan oleh kebersihan hati pemiliknya. Sebab, bila hati busuk (kotor), selalu menyakiti orang lain, melakukan kejahatan, menghukum tanpa alasan, melakukan balas dendam, dan memfitnah orang lain. Maka dari itu, hati perlu dibersihkan terlebih dahulu..
Debu – debu serta abu yang menghinggapinya harus dibersihkan terlebih dahulu, dibersihkan, disucikan, dan dimandikan. Agar hati menjadi bening seperti kaca dan dapat menerima pantulan cahaya kebaikan.

"Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupamu dan hartamu, tetapi melihat atau memperhatikan hati dan perbuatanmu".(HR:Muslim dan Ibnu Majah)

Al-Ghazali mengibaratkan, hati adalah seuah rumah. Si pemilik dapat ‘menyimpan’ malaikat dan dapat pula memelihara anjing di dalamnya. Jika ia memelihara anjing, maka ia akan selalu menyakiti orang lain. Lidahnya akan lebih tajam dari pada pisau cukur, lebih berbisa daripada ular kobra. Sifat ke-anjing-an ini disampaikan oleh hadist berikut.

‘Malaikat tidak masuk ke dalam rumah orang yang memelihara anjing’

Bahasa simbol ini dapat kita pahami bahwa kebenaran tidak akan masuk ke dalam diri orang yang memelihara kedengkian, syirik, dan kejahatan. Rumah adalah simbol dari jasad manusia. Penghuni rumah itu adalah roh, cahaya yang sangat halus dan bening. Dialah yang menghadap kepada Yang Mahasuci sebagai hasil usahanya dalam membersihkan diri dari semua kotoran yang menempel.
Bila kita sudah mengenali diri sendiri dan membersihkan hati, maka kita akan mudah mengenal Allah. Kita akan berjalan ibarat seorang raja memasuki kerajaan yang sangat indah, penuh dengan hiasan dan dijaga oleh ribuan penjaga.

Apabila seseorang hendak mengenal Tuhannya, maka ia harus mengenal akan dirinya.


Dikutip dari buku
Pumping Talent
Memahami Diri, Memompa Bakat
by Amir Tengku Ramly
Read More..